Waktu itu gue masih SMP, kelas 9 lebih tepatnya. Gue sekolah di sekolah
Buddha namanya SMP Ananda Bogor, agak terpencil memang walaupun letaknya di
kota sehingga saat gue masuk SMA di SMA Negeri 4 Bogor dan temen beserta
guru-guru nanya asal sekolah gue, setelah gue jawab mereka tetep mengerutkan
dahi pertanda bahwa SMP gue memang tidak terjamah oleh pengetahuan tentang
sekolahan yang mereka punya. Tapi gue tetep cinta SMP Ananda.
SMP Ananda mendapat undangan beasiswa dari sekolah elite di Jakarta,
Sevilla and Central School. Hanya beberapa sekolah di kota Bogor yang dapet
undangan beasiswa ini. Rata-rata sekolah negeri yang bagus dan swasta ternama.
Namun Ananda turut diundang, mengapa? Karena principal school di Sevilla
dulunya pernah bekerja di Ananda sebagai guru. Begitu tutur ketua yayasan
sekolah Ananda, Ibu Ani. Gue hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu Ani
yang panjang lebar di depan kelas.
Ibu Erlin, guru matematika sekaligus kepala sekolah SMP Ananda Bogor
langsung merekomendasikan gue sebagai kandidat untuk mengikuti seleksi penerima
beasiswa di sekolah itu. Gue memang dapet ranking 1 dari kelas 7, entah itu karena hoki atau
apa gue agak nggak ngerti. Mengingat salah satu syarat sebagai penerima beasiswa
itu adalah rata-rata nilai raportnya minimal 85, dan tidak boleh mendapat angka
dibawah 80 untuk pelajaran matematika dan bahasa inggris.
Angka di raport SMP gue memang agak fantastis, karena muridnya sedikit
jadi bukan hal yang berat buat gue untuk bersaing. Sehingga gue konsisten di
posisi pertama peringkat kelas. Ibu Erlin juga menawarkan test beasiswa ini
kepada Aldo dan Icha. Peringkat 2 dan 3 di kelas gue. Aldo itu brilliant, doi
pernah dapet posisi kedua dalam olimpiade matematika tingkat kecamatan. Tapi
sangat disayangkan, doi nolak ikut seleksi ini. Kayaknya, doi kurang suka
coba-coba.
Akhirnya gue dan Icha lah yang mengikuti seleksi ini, setelah mengisi
formulir pendaftaran yang njelimet serta memenuhi persyaratan administrasi. Dikirimkanlah
data diri gue dan Icha ke Sevilla School. Selang beberapa hari, ada surat
pemberitahuan dari Sevilla. Ada 2 amplop, satu buat gue dan yang satunya lagi
buat Icha. Dengan rasa deg-degan gue buka amplop itu perlahan-lahan berharap
gue dapet hadiah motor atau rumah senilai 1 M, tapi itu nggak mungkin.
Amplop itu berisi pemberitahuan bahwa gue lolos seleksi raport serta
administratif dan berhak mengikuti seleksi selanjutnya di Sevilla, sementara
Icha harus gugur di seleksi raport. Gue adalah wakil tunggal dari SMP yang
nggak eksis di Bogor sebagai kandidat calon penerima beasiswa. Sejenak gue
membayangkan nantinya hidup gue akan seperti sinetron dan ftv, berasal dari
keluarga biasa namun menuntut ilmu di sekolah elite. Gue bakal jadi korban
bullying geng borju disana, hingga akhirnya kapten basket yang kece badai jatuh
cinta sama gue, menambah dilema dan dramatisasi lika-liku hidup gue.
Well, kembali ke realita. Hari ini gue berangkat ke Jakarta di anter sama
papa. Gue dan papa berangkat dini hari naik bus. Di terminal sambil nungguin
bus penuh, papa beliin gue roti bakar dan air mineral. Gue memang belum sarapan
tapi gue tahu betul kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang buruk. Papa lagi
nggak punya uang tapi bela-belain beliin roti bakar buat gue. Sambil senyum
papa ngasih roti bakar itu sambil bilang “Nih makan biar nggak masuk angin”.
Gue terharu ngeliat papa rasanya pengen nangis saat itu juga. Dalem hati gue
bertekad, insyaAllah gue bakal berusaha supaya lolos seleksi dan meringankan
beban papa untuk menyekolahkan gue.
Sampai di Jakarta, jalan kaki sampai ke TKP. Dan kaki gue melangkah ke
dalam Sevilla School. Terlintas di pikiran gue, sebenarnya ini sekolah atau
mall sih? Bangunannya paten, CCTV bertebaran, adem kayak masuk ke ATM, ada meja
resepsionis di depan dan di lobby ada LED TV 54’ full touch screen yang berisi
informasi dan schedule academic sekolah. Bisa di akses dengan mudah oleh semua
siswa hanya tinggal pilih menu yang
diinginkan. Just touch it! Cool banget. Persis kayak di sinetron gue norak banget
disitu.
Beberapa orang staff menyambut dan mengarahkan gue dan papa ke lantai
atas. Di lantai 2 papa disuruh nunggu sementara gue melanjutkan ke lantai 4. Disana gue menemukan rekan-rekan
seperjuangan yang lagi duduk-dudk di koridor, lantainya kinclong temboknya
nge-jreng nggak cocok sama warna kulit gue yang coklat eksotis. Gue menghampiri
mereka dan ikut duduk sambil senyum, mengingat gue hanya sendirian dari Ananda,
gue langsung berbaur dengan anak dari sekolahan lain. Supaya nggak kelihatan
bersemedi di koridor seorang diri.
Gue baru menyadari ternyata gue nggak bawa alat tulis, untuk antisipasi
gue buru-buru minjem ke anak Mardi Waluya Bogor. Sekolahnya nggak jauh dari
sekolah gue, tapi MW jauh lebih eksis dibanding Ananda. Mereka berkelompok 3
orang. Dengan bermodal muka badak, gue memulai percakapan.
“Hey, dari MW ya? Tahu Ananda nggak?”.
Pertanyaan bodoh.
“Iya, oh Ananda
tahu kok. Dari Ananda ya?”. Jawab mereka nyaris serentak, gue menarik napas
lega mereka menjawab pertanyaan gue.
“Iya nih, cuma
sendiri hehehe”. Jawab gue sambil ngarep diajak gabung.
“Gabung aja
sini”. Ajak salah satu dari mereka, dia pake kacamata, sipit, putih dan cantik.
Gue langsung
duduk mengambil posisi dan memulai obrolan untuk mengutarakan niat gue minjem
pensil dan penghapus.
“Lupa bawa alat
tulis nih, ada pensil dan penghapus lebih nggak? Boleh pinjem?”. Terlalu to the
point.
“Oh, ada nih”.
Salah satu dari mereka mengeluarkan pensil dan penghapus.
“Tapi belum di
raut”. Katanya sambil memberikan pensil dan penghapus.
“Iya nggak
apa-apa, makasih ya”. Jawab gue sambil senyum.
Dikasih
pinjem aja gue udah syukur banget. Kalo nggak, nasib gue begimana. Bisa kalah
sebelum berperang nih. Setelah berkenalan, gue baru tahu kalau yang ngajak gue
gabung namanya Nerissa (Caca), yang minjemin gue pensil namanya Alicia (Rara)
dan yang satunya lagi namanya Cindy. Mereka sempet ngobrolin tentang Justin
Bieber. Kala itu, JB lagi naik daun dengan hitsnya ‘Baby’ namun sayang gue
kurang update sehingga nggak nyambung pas diajak ngobrol tentang JB, bahkan gue
nggak tahu siapa JB. Sedih. Kesan awal tentang gue buat mereka adalah kudet
alias kurang update. Well, gue akui itu. That’s okay.
Nggak lama kemudian, ada satu anak perempuan dari sekolah negeri. Setelah
gue liat badge lokasinya ternyata doi dari SMPN 1 Bogor. Sekolah favorit di
Bogor. Makin ciut mental gue buat bertempur saat itu. Tapi akhirnya gue nyapa
dia dan bertukar nama. Namanya Bella Marcia. Gue yakin dia Muslim, sementara
anak-anak MW yang merupakan sekolah nonis ini gue yakini mereka semua beragama
non-muslim. Oleh karena itu, pada jam istirahat gue bergabung sama Bella. Gue
makan siang dan menunaikan ibadah shalat dzuhur bersama.
Waktunya test akademik, soal demi soal gue pandangi. Gue hanya
menerka-nerka jawaban yang tepat, gue sadar betul kemampuan akademik gue sangat
lemah apalagi dalam bidang studi matematika. Saat soal matematika tiba, gue
sambut dengan depresi. Nggak ada satu soalpun yang bisa gue jawab. Well, gue
sangat pesimis. Saat shalat bareng Bella, gue mohon sama Allah, gue pengen
banget bisa meringankan beban orang tua. Selesai shalat gue menyisir rambut,
saat Bella gue tawarin untuk nyisir rambut, dia nolak. Dia bilang dia hampir
nggak pernah nyisir rambutnya karena pernah trauma waktu nyisir rambut,
rambutnya rontok banyak banget. Hem, agak freak tapi okelah. Doi tetep ramah
dan bersahaja.
Test akademik selesai hari ini, semua
peserta dapet PR nulis essay dalam bahasa inggris. Menambah deretan alasan
“Mengapa Saya Harus Depresi Hari Ini?”. Saat menghampiri papa dilantai bawah,
papa udah akrab banget sama bokapnya Caca, usut-punya-usut ternyata bokapnya
Caca adalah muridnnya papa waktu papa mengajar di Mardi Yuana. Waw, papa memang
guru senior tapi gue nggak menyangka papa se-tua ini. Dan akhirnya, gue dan
papa mendapat tumpangan pulang ke Bogor naik mobil bokapnya Caca. Rejeki emang
nggak kemana. Di perjalanan dalam mobil, gue berbincang-bincang sama Caca,
menambah keakraban dan chamistry sesama pejuang beasiswa Sevilla.
Sampai dirumah, lelah. Tapi perjuangan belum selesai, masih harus nulis
essay yang isinya alasan Mengapa Saya Ingin Mendapat Beasiswa di Sevilla
School. Dan masih ada psikotest serta oral test dan wawancara besok. Gue
memulai mengisi lembaran essay, pake bahasa inggris. Agak bingung sama grammar,
tapi akhirnya gue mengesampingkan itu. Gue hanya menuliskan niat gue ikut
seleksi ini dan alasan gue dengan sejujur-jujurnya tanpa ada rekayasa. Mungkin
essay gue lebih mirip curhatan anak labil lengkap dengan missed-grammar yang
galau bisa lolos seleksi beasiswa atau tidak. But, I don’t care. Gue percaya
kalo memang jalan yang ditentukan-Nya
adalah gue sekolah di Sevilla dan rejeki nggak akan kemana.
Selesai nulis essay jam 11 malam, akhirnya
gue tidur supaya besok nggak telat dan tetep fresh.
Bismillah, gue mengawali hari ini dengan basmalah. Ini nih gue, kalo ada
butuhnya baru inget Allah. Maunya Allah selalu inget sama gue, tapi iman gue
masih sangat labil. Well, saatnya oral test. Gue kebagian diwawancara sama Mr.
David, dia adalah kepala sekolah Central School kerabatnya Sevilla. Mr. David
itu kece badai, dia bule tulen. Badannya tinggi proporsional, matanya indah
berwarna biru laut, rambutnya pirang kecoklatan, hidungnya mancung dan rawan
patah saking tipis dan runcingnya. Nyerempet Mark ‘Westlife’ Cuma bedanya Mr.
David terlihat lebih cool dengan jenggot dan kumisnya.
Gue mengetuk pintu, Mr. David bilang “Come in!” tapi aksennya yang kental
membuat kata ‘come in’ terdengar jadi ‘good morning’ di kuping gue, well gue
mengidap gejala budek stadium awal. Dengan penuh percaya diri gue buka pintu dan
menjawab “Good morning too!” sambil
melangkah menuju mejanya. Mr. David Cuma senyum tipis meyambut kedatangan gue,
senyumannya memukau. Saking memukaunya, gue sampai nggak sadar kalo jam dinding
yang berada persis di atas kepala Mr. David menunjukkan pukul 12.30 WIB. And
you know, do you call 12.30pm as morning?!!! Setelah beberapa detik terpana
melihat Mr. David gue akhirnya sadar bahwa gue terseret arus ketampanan Mr.
David.
“Sit down,
please”. Mr. David mempersilahkan gue duduk.
Gue menyeret kursi dekat mejanya dan duduk berhadapan, dan saat ini gue
trully melted melihat mata Mr. David lebih dekat, biru lautnya begitu
menenangkan hati. Sejenak gue pengen ngegombalin Mr. David dan bilang.....
Gue : “Mister, is your daddy
an astronot?”
Mr. David : “Yes, how did you know that?”
Gue : “Because, there are so
much stars in your eyes Mister”
Mr. David : (berdiri dan memberikan sekuntum
mawar merah buat gue)
Oh tidak, khayalan gue sudah mengawag-ngawang keluar angkasa. Mr. David
mulai kepo-in gue. Dia nanya apakah gue punya pacar atau tidak, dia nyuruh gue
cerita tentang keluarga gue, dia nanya kalau gue jadi orang kaya gue mau
ngapain aja, dia nanya tentang kriteria cowok idaman gue, dia nanya tentang
hobby dan semua kesukaan gue. Dan yang terakhir Mr. David nanya tentang
penilaian gue terhadap Mr. David. Well gue nggak mau bohong karena itu dosa,
jadi gue jawab dengan jujur dan tulus dari dalam lubuk hati gue yang terdalam.
Sebelum semuanya selesai dia bilang “Okay, you’re good, funny, simple and
interesting”. Mungkin akhirnya Mr. David terlena juga dengan gombalan gue. Gue
menjabat tangannya dan bilang “thank you and nice to meet you, Sir” Dia bilang
“Nice to meet you too”. Pengen rasanya gue ngedipin mata, tapi gue takut
dituntut dan gagal oral test. Okay, oral test selesai dan cukup memuaskan.
Selanjutnya wawancara bahasa Indonesia dan psikotest.
To be
continued.....
No comments:
Post a Comment