Friday, January 4, 2013

Dear, Mr. David


Waktu itu gue masih SMP, kelas 9 lebih tepatnya. Gue sekolah di sekolah Buddha namanya SMP Ananda Bogor, agak terpencil memang walaupun letaknya di kota sehingga saat gue masuk SMA di SMA Negeri 4 Bogor dan temen beserta guru-guru nanya asal sekolah gue, setelah gue jawab mereka tetep mengerutkan dahi pertanda bahwa SMP gue memang tidak terjamah oleh pengetahuan tentang sekolahan yang mereka punya. Tapi gue tetep cinta SMP Ananda.

SMP Ananda mendapat undangan beasiswa dari sekolah elite di Jakarta, Sevilla and Central School. Hanya beberapa sekolah di kota Bogor yang dapet undangan beasiswa ini. Rata-rata sekolah negeri yang bagus dan swasta ternama. Namun Ananda turut diundang, mengapa? Karena principal school di Sevilla dulunya pernah bekerja di Ananda sebagai guru. Begitu tutur ketua yayasan sekolah Ananda, Ibu Ani. Gue hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Ibu Ani yang panjang lebar di depan kelas.
Ibu Erlin, guru matematika sekaligus kepala sekolah SMP Ananda Bogor langsung merekomendasikan gue sebagai kandidat untuk mengikuti seleksi penerima beasiswa di sekolah itu. Gue memang dapet ranking  1 dari kelas 7, entah itu karena hoki atau apa gue agak nggak ngerti. Mengingat salah satu syarat sebagai penerima beasiswa itu adalah rata-rata nilai raportnya minimal 85, dan tidak boleh mendapat angka dibawah 80 untuk pelajaran matematika dan bahasa inggris.

Angka di raport SMP gue memang agak fantastis, karena muridnya sedikit jadi bukan hal yang berat buat gue untuk bersaing. Sehingga gue konsisten di posisi pertama peringkat kelas. Ibu Erlin juga menawarkan test beasiswa ini kepada Aldo dan Icha. Peringkat 2 dan 3 di kelas gue. Aldo itu brilliant, doi pernah dapet posisi kedua dalam olimpiade matematika tingkat kecamatan. Tapi sangat disayangkan, doi nolak ikut seleksi ini. Kayaknya, doi kurang suka coba-coba.

Akhirnya gue dan Icha lah yang mengikuti seleksi ini, setelah mengisi formulir pendaftaran yang njelimet serta memenuhi persyaratan administrasi. Dikirimkanlah data diri gue dan Icha ke Sevilla School. Selang beberapa hari, ada surat pemberitahuan dari Sevilla. Ada 2 amplop, satu buat gue dan yang satunya lagi buat Icha. Dengan rasa deg-degan gue buka amplop itu perlahan-lahan berharap gue dapet hadiah motor atau rumah senilai 1 M, tapi itu nggak mungkin.

Amplop itu berisi pemberitahuan bahwa gue lolos seleksi raport serta administratif dan berhak mengikuti seleksi selanjutnya di Sevilla, sementara Icha harus gugur di seleksi raport. Gue adalah wakil tunggal dari SMP yang nggak eksis di Bogor sebagai kandidat calon penerima beasiswa. Sejenak gue membayangkan nantinya hidup gue akan seperti sinetron dan ftv, berasal dari keluarga biasa namun menuntut ilmu di sekolah elite. Gue bakal jadi korban bullying geng borju disana, hingga akhirnya kapten basket yang kece badai jatuh cinta sama gue, menambah dilema dan dramatisasi lika-liku hidup gue.

Well, kembali ke realita. Hari ini gue berangkat ke Jakarta di anter sama papa. Gue dan papa berangkat dini hari naik bus. Di terminal sambil nungguin bus penuh, papa beliin gue roti bakar dan air mineral. Gue memang belum sarapan tapi gue tahu betul kondisi ekonomi keluarga saat itu sedang buruk. Papa lagi nggak punya uang tapi bela-belain beliin roti bakar buat gue. Sambil senyum papa ngasih roti bakar itu sambil bilang “Nih makan biar nggak masuk angin”. Gue terharu ngeliat papa rasanya pengen nangis saat itu juga. Dalem hati gue bertekad, insyaAllah gue bakal berusaha supaya lolos seleksi dan meringankan beban papa untuk menyekolahkan gue.

Sampai di Jakarta, jalan kaki sampai ke TKP. Dan kaki gue melangkah ke dalam Sevilla School. Terlintas di pikiran gue, sebenarnya ini sekolah atau mall sih? Bangunannya paten, CCTV bertebaran, adem kayak masuk ke ATM, ada meja resepsionis di depan dan di lobby ada LED TV 54’ full touch screen yang berisi informasi dan schedule academic sekolah. Bisa di akses dengan mudah oleh semua siswa hanya tinggal pilih menu  yang diinginkan. Just touch it! Cool banget. Persis kayak di sinetron gue norak banget disitu.

Beberapa orang staff menyambut dan mengarahkan gue dan papa ke lantai atas. Di lantai 2 papa disuruh nunggu sementara gue melanjutkan ke lantai  4. Disana gue menemukan rekan-rekan seperjuangan yang lagi duduk-dudk di koridor, lantainya kinclong temboknya nge-jreng nggak cocok sama warna kulit gue yang coklat eksotis. Gue menghampiri mereka dan ikut duduk sambil senyum, mengingat gue hanya sendirian dari Ananda, gue langsung berbaur dengan anak dari sekolahan lain. Supaya nggak kelihatan bersemedi di koridor seorang diri.

Gue baru menyadari ternyata gue nggak bawa alat tulis, untuk antisipasi gue buru-buru minjem ke anak Mardi Waluya Bogor. Sekolahnya nggak jauh dari sekolah gue, tapi MW jauh lebih eksis dibanding Ananda. Mereka berkelompok 3 orang. Dengan bermodal muka badak, gue memulai percakapan.
 “Hey, dari MW ya? Tahu Ananda nggak?”. Pertanyaan bodoh.
“Iya, oh Ananda tahu kok. Dari Ananda ya?”. Jawab mereka nyaris serentak, gue menarik napas lega mereka menjawab pertanyaan gue.
“Iya nih, cuma sendiri hehehe”. Jawab gue sambil ngarep diajak gabung.
“Gabung aja sini”. Ajak salah satu dari mereka, dia pake kacamata, sipit, putih dan cantik.
Gue langsung duduk mengambil posisi dan memulai obrolan untuk mengutarakan niat gue minjem pensil dan penghapus.
“Lupa bawa alat tulis nih, ada pensil dan penghapus lebih nggak? Boleh pinjem?”. Terlalu to the point.
“Oh, ada nih”. Salah satu dari mereka mengeluarkan pensil dan penghapus.
“Tapi belum di raut”. Katanya sambil memberikan pensil dan penghapus.
“Iya nggak apa-apa, makasih ya”. Jawab gue sambil senyum.
                Dikasih pinjem aja gue udah syukur banget. Kalo nggak, nasib gue begimana. Bisa kalah sebelum berperang nih. Setelah berkenalan, gue baru tahu kalau yang ngajak gue gabung namanya Nerissa (Caca), yang minjemin gue pensil namanya Alicia (Rara) dan yang satunya lagi namanya Cindy. Mereka sempet ngobrolin tentang Justin Bieber. Kala itu, JB lagi naik daun dengan hitsnya ‘Baby’ namun sayang gue kurang update sehingga nggak nyambung pas diajak ngobrol tentang JB, bahkan gue nggak tahu siapa JB. Sedih. Kesan awal tentang gue buat mereka adalah kudet alias kurang update. Well, gue akui itu. That’s okay.

Nggak lama kemudian, ada satu anak perempuan dari sekolah negeri. Setelah gue liat badge lokasinya ternyata doi dari SMPN 1 Bogor. Sekolah favorit di Bogor. Makin ciut mental gue buat bertempur saat itu. Tapi akhirnya gue nyapa dia dan bertukar nama. Namanya Bella Marcia. Gue yakin dia Muslim, sementara anak-anak MW yang merupakan sekolah nonis ini gue yakini mereka semua beragama non-muslim. Oleh karena itu, pada jam istirahat gue bergabung sama Bella. Gue makan siang dan menunaikan ibadah shalat dzuhur bersama.

Waktunya test akademik, soal demi soal gue pandangi. Gue hanya menerka-nerka jawaban yang tepat, gue sadar betul kemampuan akademik gue sangat lemah apalagi dalam bidang studi matematika. Saat soal matematika tiba, gue sambut dengan depresi. Nggak ada satu soalpun yang bisa gue jawab. Well, gue sangat pesimis. Saat shalat bareng Bella, gue mohon sama Allah, gue pengen banget bisa meringankan beban orang tua. Selesai shalat gue menyisir rambut, saat Bella gue tawarin untuk nyisir rambut, dia nolak. Dia bilang dia hampir nggak pernah nyisir rambutnya karena pernah trauma waktu nyisir rambut, rambutnya rontok banyak banget. Hem, agak freak tapi okelah. Doi tetep ramah dan bersahaja.

Test akademik selesai hari ini, semua peserta dapet PR nulis essay dalam bahasa inggris. Menambah deretan alasan “Mengapa Saya Harus Depresi Hari Ini?”. Saat menghampiri papa dilantai bawah, papa udah akrab banget sama bokapnya Caca, usut-punya-usut ternyata bokapnya Caca adalah muridnnya papa waktu papa mengajar di Mardi Yuana. Waw, papa memang guru senior tapi gue nggak menyangka papa se-tua ini. Dan akhirnya, gue dan papa mendapat tumpangan pulang ke Bogor naik mobil bokapnya Caca. Rejeki emang nggak kemana. Di perjalanan dalam mobil, gue berbincang-bincang sama Caca, menambah keakraban dan chamistry sesama pejuang beasiswa Sevilla.

Sampai dirumah, lelah. Tapi perjuangan belum selesai, masih harus nulis essay yang isinya alasan Mengapa Saya Ingin Mendapat Beasiswa di Sevilla School. Dan masih ada psikotest serta oral test dan wawancara besok. Gue memulai mengisi lembaran essay, pake bahasa inggris. Agak bingung sama grammar, tapi akhirnya gue mengesampingkan itu. Gue hanya menuliskan niat gue ikut seleksi ini dan alasan gue dengan sejujur-jujurnya tanpa ada rekayasa. Mungkin essay gue lebih mirip curhatan anak labil lengkap dengan missed-grammar yang galau bisa lolos seleksi beasiswa atau tidak. But, I don’t care. Gue percaya kalo memang  jalan yang ditentukan-Nya adalah gue sekolah di Sevilla dan rejeki nggak akan kemana.

Selesai nulis essay jam 11 malam, akhirnya gue tidur supaya besok nggak telat dan tetep fresh.

Bismillah, gue mengawali hari ini dengan basmalah. Ini nih gue, kalo ada butuhnya baru inget Allah. Maunya Allah selalu inget sama gue, tapi iman gue masih sangat labil. Well, saatnya oral test. Gue kebagian diwawancara sama Mr. David, dia adalah kepala sekolah Central School kerabatnya Sevilla. Mr. David itu kece badai, dia bule tulen. Badannya tinggi proporsional, matanya indah berwarna biru laut, rambutnya pirang kecoklatan, hidungnya mancung dan rawan patah saking tipis dan runcingnya. Nyerempet Mark ‘Westlife’ Cuma bedanya Mr. David terlihat lebih cool dengan jenggot dan kumisnya.

Gue mengetuk pintu, Mr. David bilang “Come in!” tapi aksennya yang kental membuat kata ‘come in’ terdengar jadi ‘good morning’ di kuping gue, well gue mengidap gejala budek stadium awal. Dengan penuh percaya diri gue buka pintu dan menjawab “Good morning  too!” sambil melangkah menuju mejanya. Mr. David Cuma senyum tipis meyambut kedatangan gue, senyumannya memukau. Saking memukaunya, gue sampai nggak sadar kalo jam dinding yang berada persis di atas kepala Mr. David menunjukkan pukul 12.30 WIB. And you know, do you call 12.30pm as morning?!!! Setelah beberapa detik terpana melihat Mr. David gue akhirnya sadar bahwa gue terseret arus ketampanan Mr. David.
“Sit down, please”. Mr. David mempersilahkan gue duduk.

Gue menyeret kursi dekat mejanya dan duduk berhadapan, dan saat ini gue trully melted melihat mata Mr. David lebih dekat, biru lautnya begitu menenangkan hati. Sejenak gue pengen ngegombalin Mr. David dan bilang.....
Gue                       : “Mister, is your daddy an astronot?”
Mr. David            : “Yes, how did you know that?”
Gue                       : “Because, there are so much stars in your eyes Mister”
Mr. David            : (berdiri dan memberikan sekuntum mawar merah buat gue)

Oh tidak, khayalan gue sudah mengawag-ngawang keluar angkasa. Mr. David mulai kepo-in gue. Dia nanya apakah gue punya pacar atau tidak, dia nyuruh gue cerita tentang keluarga gue, dia nanya kalau gue jadi orang kaya gue mau ngapain aja, dia nanya tentang kriteria cowok idaman gue, dia nanya tentang hobby dan semua kesukaan gue. Dan yang terakhir Mr. David nanya tentang penilaian gue terhadap Mr. David. Well gue nggak mau bohong karena itu dosa, jadi gue jawab dengan jujur dan tulus dari dalam lubuk hati gue yang terdalam.

Sebelum semuanya selesai dia bilang “Okay, you’re good, funny, simple and interesting”. Mungkin akhirnya Mr. David terlena juga dengan gombalan gue. Gue menjabat tangannya dan bilang “thank you and nice to meet you, Sir” Dia bilang “Nice to meet you too”. Pengen rasanya gue ngedipin mata, tapi gue takut dituntut dan gagal oral test. Okay, oral test selesai dan cukup memuaskan. Selanjutnya wawancara bahasa Indonesia dan psikotest.
To be continued.....

No comments:

Post a Comment