Tuesday, April 15, 2014

Ikhtisar Sosiologi Umum



MK SOSIOLOGI UMUM                                        Tanggal : 26 Februari 2014
Nama : Meilani Karina (E44130028)                                  Ruang    : CCR 2.05

Praktikum 2
Drug Trafficker’ dari Cianjur
Oleh : Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan Upik Supriyatun

Nama Asisten :
Fitri Hilmi Hikmayanti (I34110010)
 

Ikhtisar
Merika Flanola alias Ola, drug trafficker kelas internasional akhirnya dijatuhi hukuman mati karena menjadi tersangka pengedaran narkoba ke berbagai negara. Ola ditangkap bersama dua sepupunya yang juga dijatuhi hukuman mati yaitu Rani Adriani alias Melisa Aprilia (28) dan Deni Setia Maharwan (25) di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng pada tanggal 12 Januari 2003, saat mereka hendak terbang ke London. Dari tas Deni, polisi menemukan 3 kilogram kokain, 3,5 kilogram heroin di tas Rani, dan 3,6 kilogram heroin yang ditemukan dirumah Ola setelah ia dibekuk petugas.
Ola mempunyai jalan hidup yang berliku. Berawal menjadi seorang disc jocker setelah tamat SMA, Ola mempunyai seorang anak (Eka Prawira) dari hubungan gelapnya dengan Mr.X. Untuk menghidupi anaknya, Ola bekerja menjadi disc jocker di berbagai diskotek. Diantaranya di Puncak, Bali, Bogor dan Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Oktober 1997, Ola bertemu dengan Tajudin alias, pria asal Nigeria yang mengaku sebagai pebisnis pakaian jadi. Pertemuan pertamanya di apartemen Ola Kampungbali Jakarta Pusat menjadi tonggak kedekatan mereka dan akhirnya mereka menikah di rumah orang tua Ola di Cianjur setelah Ola diketahui hamil. Waktu berjalan, watak Tony akhirnya terlihat. Ola sering menjadi korban kekerasan Tony. Kedok asli Tony terungkap, bahwa sebenarnya Tony bukan pebisnis pakaian jadi melainkan pengedar narkoba. Setiap kali ingin melawan, Ola mengaku bahwa ia selalu tunduk dan tidak bisa marah karena Tony mempunyai semacam kekuatan ‘magic’. Ia juga mengaku dipaksa bekerja sama, mulai dari menjadi kurir hingga pengatur lalu lintas pengedaran obat terlarang atau drug trafficker.
Berkat bisnis tersebut. Berangsur-angsur keadaan ekonomi Tony-Ola membaik. Mereka mengontrak dua rumah sekaligus di Bogor dan Cinere, Jawa Barat. Ada gula ada semut, kerabat Ola banyak yang meminta bantuan kepadanya. Karena Ola tidak mempunyai uang maka ia menyampaikan perihal ini kepada suaminya.  Akhirnya Rani-Deni sepupu Ola terjebak dalam sindikat kurir narkotika demi mengembalikan uang pinjaman yang telah diberikan Tony.
Bukan perkara mudah untuk mengungkap jaringan narkotika Tony, karena ia melakukannya dengan sangat rapi dan berkali-kali lolos dari razia dan sinar X di bandara. Baru akhirnya ia terbunuh bersama empat rekannya dalam baku tembak di rumah kontrakannya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Setelah polisi mendapatkan informasi dari Ola yang lebih dulu dibekuk di bandara bersama dua sepupunya.
“Ola sangat profesional dalam menjalankan tugasnya, Dia pintar berbohong, berperilaku manis, dan lemah lembut”. Kata Alex Bambang Riatmodjo, mantan Kepala Direktorat Reserse Metro Jaya yang kini menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Besar Bandung. Alex Bambang yang memimpin operasi penangkapan Ola di Cengkareng juga menyatakan tidak percaya kalau keterlibatan Ola dalam peredaran narkotik semata karena terpaksa. Berdasarkan penyelidikan polisi, bisnis ini sudah digeluti Ola sejak menjadi deeejay. Dugaan Alex dibenarkan pula oleh jaksa Mursidi dan hakim Asep.

Sumber:
Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan Upik Supriyatun. Modul Praktikum Sosiologi Umum. (Februari 2005)


No comments:

Post a Comment