MK
SOSIOLOGI UMUM Tanggal : 26 Februari 2014
Nama : Meilani Karina (E44130028) Ruang
: CCR 2.05
Praktikum 2
“ ’Drug
Trafficker’ dari Cianjur ”
Oleh : Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan
Upik Supriyatun
Nama Asisten :
Fitri Hilmi Hikmayanti (I34110010)
Ikhtisar
Merika Flanola
alias Ola, drug trafficker kelas
internasional akhirnya dijatuhi hukuman mati karena menjadi tersangka
pengedaran narkoba ke berbagai negara. Ola ditangkap bersama dua sepupunya yang
juga dijatuhi hukuman mati yaitu Rani Adriani alias Melisa Aprilia (28) dan
Deni Setia Maharwan (25) di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng pada tanggal 12
Januari 2003, saat mereka hendak terbang ke London. Dari tas Deni, polisi
menemukan 3 kilogram kokain, 3,5 kilogram heroin di tas Rani, dan 3,6 kilogram
heroin yang ditemukan dirumah Ola setelah ia dibekuk petugas.
Ola mempunyai
jalan hidup yang berliku. Berawal menjadi seorang disc jocker setelah tamat SMA, Ola mempunyai seorang anak (Eka
Prawira) dari hubungan gelapnya dengan Mr.X. Untuk menghidupi anaknya, Ola
bekerja menjadi disc jocker di
berbagai diskotek. Diantaranya di Puncak, Bali, Bogor dan Tanah Abang, Jakarta
Pusat.
Oktober 1997, Ola
bertemu dengan Tajudin alias, pria asal Nigeria yang mengaku sebagai pebisnis
pakaian jadi. Pertemuan pertamanya di apartemen Ola Kampungbali Jakarta Pusat
menjadi tonggak kedekatan mereka dan akhirnya mereka menikah di rumah orang tua
Ola di Cianjur setelah Ola diketahui hamil. Waktu berjalan, watak Tony akhirnya
terlihat. Ola sering menjadi korban kekerasan Tony. Kedok asli Tony terungkap,
bahwa sebenarnya Tony bukan pebisnis pakaian jadi melainkan pengedar narkoba.
Setiap kali ingin melawan, Ola mengaku bahwa ia selalu tunduk dan tidak bisa
marah karena Tony mempunyai semacam kekuatan ‘magic’. Ia juga mengaku dipaksa bekerja sama, mulai dari menjadi
kurir hingga pengatur lalu lintas pengedaran obat terlarang atau drug trafficker.
Berkat bisnis
tersebut. Berangsur-angsur keadaan ekonomi Tony-Ola membaik. Mereka mengontrak
dua rumah sekaligus di Bogor dan Cinere, Jawa Barat. Ada gula ada semut,
kerabat Ola banyak yang meminta bantuan kepadanya. Karena Ola tidak mempunyai
uang maka ia menyampaikan perihal ini kepada suaminya. Akhirnya Rani-Deni sepupu Ola terjebak dalam
sindikat kurir narkotika demi mengembalikan uang pinjaman yang telah diberikan
Tony.
Bukan perkara
mudah untuk mengungkap jaringan narkotika Tony, karena ia melakukannya dengan
sangat rapi dan berkali-kali lolos dari razia dan sinar X di bandara. Baru
akhirnya ia terbunuh bersama empat rekannya dalam baku tembak di rumah
kontrakannya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan. Setelah polisi mendapatkan
informasi dari Ola yang lebih dulu dibekuk di bandara bersama dua sepupunya.
“Ola sangat
profesional dalam menjalankan tugasnya, Dia pintar berbohong, berperilaku
manis, dan lemah lembut”. Kata Alex Bambang Riatmodjo, mantan Kepala Direktorat
Reserse Metro Jaya yang kini menjadi Kepala Kepolisian Wilayah Besar Bandung.
Alex Bambang yang memimpin operasi penangkapan Ola di Cengkareng juga
menyatakan tidak percaya kalau keterlibatan Ola dalam peredaran narkotik semata
karena terpaksa. Berdasarkan penyelidikan polisi, bisnis ini sudah digeluti Ola
sejak menjadi deeejay. Dugaan Alex
dibenarkan pula oleh jaksa Mursidi dan hakim Asep.
Sumber:
Irfan Budiman, Rian Suryalibrata, dan Upik
Supriyatun. Modul Praktikum Sosiologi Umum. (Februari 2005)
No comments:
Post a Comment