Saturday, May 24, 2014

Potret Edukasi



Potret Edukasi Kelurahan Muarasari
            Dewasa ini, pendidikan tidak hanya dipandang sebelah mata. Pendidikan bisa dijadikan indikator majunya sebuah bangsa. Jika rakyat bangsa itu berpendidikan baik maka bisa dikatakan bangsa itu ialah bangsa yang maju begitupun sebaliknya. Negara-negara adidaya di dunia tentunya sudah menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan primer dan memudahkan segala akses yang berhubungan dengan pendidikan, sebaliknya, negara berkembang masih berkutat dengan carut-marut pendidikan dan lalu lintas birokrasinya yang berbelit-belit.
Pendidikan dasar berpengaruh penting dalam pembentukan karakter kepribadian seseorang. Pemerintah seharusnya lebih memusatkan perhatian untuk memperbaiki pendidikan dasar di negara ini. Carut-marutnya pendidikan bangsa ini, rupanya dapat dilihat dalam contoh kecil di Kelurahan Muarasari, Kp. Anyar Kota Bogor. Kelurahan Muarasari hanya memiliki dua sekolah dasar, yaitu SDN Muarasari I dan SDN Muarasari III.
Presentase warga usia sekolah dasar di kelurahan Muarasari sangat besar. Alhasil, murid sekolah dasar ini dalam satu kelas mencapai ±45 orang. Jumlah yang melebihi standar banyaknya siswa dalam satu kelas. Dampak dari berlebihnya jumlah siswa tentu sangat banyak, guru tidak dapat meng-handle semua siswa dalam kelas sehingga ada beberapa siswa yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan terpaksa harus tinggal kelas. Jumlah siswa yang melebihi kapasitas kelas dinilai kurang efisien bagi setiap individu untuk menerima pelajaran. Penetapan batas maksimal penerimaan siswa sekolah dasar sebaiknya harus dipatuhi oeh semua pihak.
Masalah lain yang berdampak besar untuk kualitas pendidikan bangsa Indonesia adalah kurangnya tenaga kependidikan untuk mengajar. Di SDN Muarasari I, satu orang guru ditugaskan untuk mengajar 2-4 kelas sekaligus, alhasil guru tidak fokus untuk memperhatikan siswanya satu-persatu. Dibutuhkan pembagian kerja yang jelas bagi tiap tenaga kependidikan agar dapat mengajar dengan maksimal dan dapat menanamkan karakter-karakter terpuji demi tercetaknya kaum intelektual yang berbudi luhur di masa depan.
Tenaga kependidikan yang kurang disiplin juga turut andil dalam masalah pendidikan bangsa ini. Pegawai Negeri Sipil atau PNS bisa dikatakan mendapat fasilitas terbaik dari bangsa ini, berbagai tunjangan juga diluncurkan pemerintah demi meningkatkan kualitas hidup para PNS dan diharapkan mereka mampu berdedikasi penuh dalam bidangnya masing-masing. Namun kenyataannya tidak untuk PNS yang bekerja sebagai guru di sekolah dasar, tidak sedikit tenaga kependidikan yang sering absen tanpa alasan yang jelas. Sering datang terlambat saat mengajar dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Pembagian proporsi waktu belajar dengan waktu untuk mengabsen siswa yang masuk terkadang tidak efisien. Para guru seringkali menghabiskan waktu untuk melakukan absen, sedangkan waktu yang tersisa hanya sedikit untuk melakukan kegiatan belajar mengajar. Masalah kecil seperti ini ternyata berdampak besar bagi hasil belajar siswa. Pendidikan sekolah dasar yang gratis rupanya  tidak sepenuhnya mempermudah para siswa memperoleh edukasi, siswa sekolah dasar seringkali secara tidak langsung diwajibkan untuk membeli berbagai buku LKS (Lembar Kerja Siswa) sementara mereka yang kurang mampu membeli terpaksa harus rela tertinggal pelajaran karena sibuk menyalin soal ke buku tulis.
Inilah realita dan potret edukasi di kelurahan Muarasari yang mungkin merupakan contoh kecil permasalahan pendidikan di Indonesia. Pendidikan dasar negara ini tidak dapat diperbaiki jika tidak ada integrasi dari masyarakat dan pemerintah. Semua pihak diharapkan dapat bekerja sama memperbaiki masalah ini demi terwujudnya pendidikan Indonesia yang cemerlang.
Meilani Karina (E44130028)
           

No comments:

Post a Comment