Potret
Edukasi Kelurahan Muarasari
Dewasa ini, pendidikan tidak hanya dipandang sebelah
mata. Pendidikan bisa dijadikan indikator majunya sebuah bangsa. Jika rakyat
bangsa itu berpendidikan baik maka bisa dikatakan bangsa itu ialah bangsa yang
maju begitupun sebaliknya. Negara-negara adidaya di dunia tentunya sudah
menjadikan pendidikan sebagai kebutuhan primer dan memudahkan segala akses yang
berhubungan dengan pendidikan, sebaliknya, negara berkembang masih berkutat
dengan carut-marut pendidikan dan lalu lintas birokrasinya yang berbelit-belit.
Pendidikan
dasar berpengaruh penting dalam pembentukan karakter kepribadian seseorang.
Pemerintah seharusnya lebih memusatkan perhatian untuk memperbaiki pendidikan
dasar di negara ini. Carut-marutnya pendidikan bangsa ini, rupanya dapat
dilihat dalam contoh kecil di Kelurahan Muarasari, Kp. Anyar Kota Bogor. Kelurahan
Muarasari hanya memiliki dua sekolah dasar, yaitu SDN Muarasari I dan SDN
Muarasari III.
Presentase
warga usia sekolah dasar di kelurahan Muarasari sangat besar. Alhasil, murid
sekolah dasar ini dalam satu kelas mencapai ±45 orang. Jumlah yang melebihi
standar banyaknya siswa dalam satu kelas. Dampak dari berlebihnya jumlah siswa tentu
sangat banyak, guru tidak dapat meng-handle
semua siswa dalam kelas sehingga ada beberapa siswa yang tidak dapat
mengikuti pelajaran dengan baik dan terpaksa harus tinggal kelas. Jumlah siswa
yang melebihi kapasitas kelas dinilai kurang efisien bagi setiap individu untuk
menerima pelajaran. Penetapan batas maksimal penerimaan siswa sekolah dasar
sebaiknya harus dipatuhi oeh semua pihak.
Masalah
lain yang berdampak besar untuk kualitas pendidikan bangsa Indonesia adalah
kurangnya tenaga kependidikan untuk mengajar. Di SDN Muarasari I, satu orang
guru ditugaskan untuk mengajar 2-4 kelas sekaligus, alhasil guru tidak fokus
untuk memperhatikan siswanya satu-persatu. Dibutuhkan pembagian kerja yang
jelas bagi tiap tenaga kependidikan agar dapat mengajar dengan maksimal dan
dapat menanamkan karakter-karakter terpuji demi tercetaknya kaum intelektual
yang berbudi luhur di masa depan.
Tenaga
kependidikan yang kurang disiplin juga turut andil dalam masalah pendidikan
bangsa ini. Pegawai Negeri Sipil atau PNS bisa dikatakan mendapat fasilitas
terbaik dari bangsa ini, berbagai tunjangan juga diluncurkan pemerintah demi
meningkatkan kualitas hidup para PNS dan diharapkan mereka mampu berdedikasi
penuh dalam bidangnya masing-masing. Namun kenyataannya tidak untuk PNS yang
bekerja sebagai guru di sekolah dasar, tidak sedikit tenaga kependidikan yang
sering absen tanpa alasan yang jelas. Sering datang terlambat saat mengajar dan
tidak menjalankan tugasnya dengan baik.
Pembagian
proporsi waktu belajar dengan waktu untuk mengabsen siswa yang masuk terkadang
tidak efisien. Para guru seringkali menghabiskan waktu untuk melakukan absen,
sedangkan waktu yang tersisa hanya sedikit untuk melakukan kegiatan belajar
mengajar. Masalah kecil seperti ini ternyata berdampak besar bagi hasil belajar
siswa. Pendidikan sekolah dasar yang gratis rupanya tidak sepenuhnya mempermudah para siswa
memperoleh edukasi, siswa sekolah dasar seringkali secara tidak langsung
diwajibkan untuk membeli berbagai buku LKS (Lembar Kerja Siswa) sementara
mereka yang kurang mampu membeli terpaksa harus rela tertinggal pelajaran
karena sibuk menyalin soal ke buku tulis.
Inilah
realita dan potret edukasi di kelurahan Muarasari yang mungkin merupakan contoh
kecil permasalahan pendidikan di Indonesia. Pendidikan dasar negara ini tidak
dapat diperbaiki jika tidak ada integrasi dari masyarakat dan pemerintah. Semua
pihak diharapkan dapat bekerja sama memperbaiki masalah ini demi terwujudnya
pendidikan Indonesia yang cemerlang.
Meilani
Karina (E44130028)
No comments:
Post a Comment