Saturday, May 24, 2014

Ekspansi Kelapa Sawit dan Dampaknya pada Eksistensi Lahan Hutan serta Keragaman Hayati di Indonesia



Ekspansi Kelapa Sawit dan Dampaknya pada Eksistensi Lahan Hutan serta Keragaman Hayati di Indonesia
Oleh : Meilani Karina (E44130028)

BAB I
Pendahuluan
I.1 Latar Belakang
          Ekspansi sawit dinilai menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Berbagai kejadian seperti konflik dan bencana ekologis kerap kali menerpa sejunlah daerah. Hal ini berkaitan erat dengan laju kerusakan hutan. Menurut data SOB, laju kerusakan hutan di Indonesia lebih dari 2% atau senilai 1,87 ha/tahun. Pembukaan lahan kelapa sawit secara besar-besaran dengan legalitas dari pemerintah menyebabkan degradasi lahan hutan dan keanekaragaman hayati.
            Perkebunan sawit dikenal sebagai anti-keragaman hayati. Masalah terbesarnya adalah sawit sering dibudidayakan dengan mengorbankan hutan alam yang kaya akan keragaman hayati. Mengingat tanaman sawit sangat potensial sebagai tumbuhan penghasil minyak nabati terbanyak. Tidak sedikit pebisnis yang tertarik menggeluti bisnis minyak sawit.
            Rata-rata tahunan deforestasi terutama di Kalimantan terus meningkat. Sekitar 32,6% hutan di Kalimantan yang masih alami dan belum di konversi menjadi lahan sawit. Berbagai strategi dipikirkan para ahli agar dampak ekspansi sawit tidak terlalu fatal. Dari mulai pembukaan lahan sawit hanya boleh dilakukan di lahan hutan yang rusak sampai pemboikotan minyak kelapa yang ditanam di lahan konservasi. Namun hingga saat ini, belum ditemukan cara yang baik untuk menghentikan degradasi lahan hutan dan segala dampaknya yang berimplikasi pada berkurangnya keragaman hayati di Indonesia.

I.2 Tujuan
            Menyampaikan fakta yang berkaitan erat dengan degradasi lahan hutan dan keragaman hayati yang disebabkan oleh legalitas ekspansi kelapa sawit di Indonesia.


BAB II
Pembahasan
A.    Keunggulan Kelapa Sawit
            Kelapa sawit Afrika (Elaeis guineensis) berasal dari kawasan tropis Afrika, tersebar di hutan hujan Sierra Leone hingga Kongo, Republik Demokratis Kongo. Spesiesnya dikenalkan pada Malaysia pada awal abad ke-20 dan pertama kali ditanam untuk tujuan komersial pada tahun 1917.
            Merujuk pada Konferensi Keberlanjutan Minyak Kelapa Internasional (International Palm Oil Sustainability Conference) pertama di Kota Kinabalu, Malaysia, biologis dari Princeton Dr. David S. Wilcove mengatakan bahwa industri minyak kelapa terlalu penting bagi ekonomi Indonesia dan Malaysia untuk dibenarkan masuk dalam larangan impor pada minyak yang dapat dikonsumsi dan digunakan dalam makanan, kosmetik, produk industri, dan biodiesel. Industri minyak kelapa memberikan kontribusi pada kesehatan, edukasi, dan infrastruktur di wilayah rural.
            Keuntungan ekonomis dari minyak kelapa sangatlah potensial, namun harus adanya pengorbanan keragaman biologis. Kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Satu hektar kelapa sawit dapat menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau hampir 6.000 liter minyak mentah menurut data dari Kementerian Pertanian dan Perkebunan Republik Indonesia
.                                                      
          Selain biofuel, kelapa sawit juga dipakaikan untuk beribu-ribu kegunaan lain dari bahan-bahan makanan ke pelumas mesin hingga dasar kosmetik. Kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel. Sebagai contohnya, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil minyak kelapa terbesar kedua di dunia, perkebunanan kelapa sawitnya mencakup 5,3 juta hektar di tahun 2004, menurut laporan dari Friends of the Earth-Netherlands.
B.     Dampak Ekspansi Sawit
fvfvrr.jpg
sumber: world.mongabay.com

Deforestasi di Indonesia serta berkurangnya keragaman hayati merupakan dampak dari legalitas ekspansi kelapa sawit secara besar-besaran.

borneo_defor_1985-2002-450.jpg
           Laju kerusakan hutan di Indonesia mencapai 2%. Selain kerusakan lingkungan, investasi perkebunan kelapa sawit juga mengancam keberadaan masyarakat lokal beserta hak-hak tradisionalnya. Secara umum diskriminasi terhadap masyarakat lokal sangat banyak terjadi dalam pengelolaan sumber daya hutan dan lahan hutan di Kalimantan Tengah. Seringkali hutan lindung, hutan konservasi dan kawasan tambang ditetapkan oleh pemerintah sendiri tanpa melibatkan komunitas masyarakat lokal.
            Ekspansi kebun sawit berdampak pada deforestasi dan degradasi hutan terhadap masyarakat lokal. Bagi masyarakat lokal yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, deforestasi dan degradasi hutan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dampak tersebut bukan hanya dibidang ekonomi tapi juga bidang politik, sosial dan budaya.
            Banyak perkebunan sawit nakal yang beroperasi di atas lahan hutan konservasi, jumlahnya masih dalam pencarian. Perkebunan sawit itu dibangun secara sporadis dan sembunyi-sembunyi. Hal ini disampaikan oleh Menteri Kehutanan pada ICOPE 2014 di Bali. Kasus lainnya, Golden Agri Resources (GAR) atau konglomerasi pengembangan sumberdaya alam besar yang berbasis di Singapura. Kelompok usaha ini, yang dimiliki oleh keluarga Widjaya yang kaya raya dari Indonesia, meliputi Sinar Mas Banking, Sinar Mas Forestry, dan Asia Pulp and Paper. Mayoritas kepemilikan kelapa sawit yang luas dari konglomerasi ini di Indonesia dikelompokkan bersama sebagai PT SMART.

          Tahun 2009, kelompok ini berada di bawah sorotan NGO Greenpeace, yang mendapat data yang rinci dari hasil penilaian lapangan dan citra satelit, bahwa anak perusahaan PT SMART melakukan penebangan hutan dan pengeringan gambut dengan melanggar standar-standar RSPO dan dengan demikian memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Karena berada di bawah tekanan berat dari Greenpeace karena membeli minyak sawit dari PT SMART, Unilever mengumumkan akan menangguhkan pembelian minyak sawit produksi PT SMART sambil menunggu penghentian konversi hutan dan lahan gambut oleh pihak perusahaan.
Masih banyak kasus lain tentang pembukaan lahan kelapa sawit secara ilegal dan berdampak sangat buruk bagi eksistensi lahan hutan dan keragaman hayati. Namun, kelapa sawit tidaklah harus buruk penanaman yang dilakukan diatas lahan hutan yang rusak dengan tidak menebang hutan di hulu sungai dan menghentikan pembukaan lahan serta memperhatikan dampak penggunaan pupuk bagi lingkungan dinilai cukup efektif jika semua pihak bahu-membahu untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan.

Di penelitian yang melihat keragaman burung dan kupu-kupu di hutan primer, hutan yang ditebangi, perkebunan karet, dan perkebunan kelapa sawit, seorang peneliti Prof. Wilcove dan koleganya dari Princeton Dr. Lian Pin Koh menemukan bahwa pengubahan hutan hujan alami ke kelapa sawit menyebabkan penurunan yang tajam pada kekayaan spesies. Ditemukan 77 persen penurunan di spesies burung hutan dalam konversi hutan berusia tua ke perkebunan kelapa sawit. Untuk kupu-kupu, penurunannya 83 persen. Presentase yang cukup besar.

            Fokus pendirian kelapa sawit seharusnya di atas lahan yang telah terdegradasi dan diolah seperti lahan rumput dan perkebunan karet. Hutan primer dan sekunder penting bagi keberadaan keragaman hayati. Namun, usaha untuk memboikot minyak kelapa dinilai tidak praktis dan tidak realistis jika dilihat dari sisi ekonomi. Mengingat hasil dari kelapa sawit merupakan komoditi ekspor Indonesia.


BAB III
Penutup

III.1 Kesimpulan
Kelapa sawit memberikan keuntungan ekonomi yang sangat substansial bagi negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indonesia diperkirakan akan menjadi negara eksportir terbesar olahan kelapa sawit mengalahkan Malaysia. Ekspansi sawit memberikan dampak agregat yang sangat buruk bagi eksistensi lahan hutan dan keragaman hayati. Meningkatnya laju kerusakan hutan di Indonesia serta menurunnya presentase keragaman hayati menjadi sorotan utama. Pengubahan hutan hujan alami ke kelapa sawit menyebabkan laju kerusakan hutan naik menjadi 2% dan penurunan tajam spesies burung dan kupu-kupu.



III.2 Saran
Fokus pendirian kelapa sawit seharusnya diatas lahan yang telah terdegradasi. Kerjasama yang strategis antara para pemerhati lingkungan dan perusahaan minyak kelapa dapat menggerakan usaha-usaha perlindungan lingkungan yang lebih efektif. Pemboikotan minyak kelapa kurang efektif mengingat pentingnya keuntungan dari hasil penjualan minyak kelapa. Industri minyak sawit akan mendapatkan keuntungan lebih besar dengan tingginya keragaman hayati untuk mengurangi pemakaian pembasmi hama kelapa sawit.
Petani kelapa sawit seharunsnya mengembalikan bidang-bidang lahan hutan yang rusak, daerah penyangga sungai dan habitat di pinggiran perkebunan kelapa sawit. Pengerjaan yang ramah lingkungan akan menurunkan tingkat deforestasi dan degradasi keragaman hayati. Integrasi yang baik antara masyarakat dan produsen kelapa sawit akan menjadi titik terang bagi ditemukannya solusi inovatif untuk masalah ini.

No comments:

Post a Comment