Ekspansi
Kelapa Sawit dan Dampaknya pada Eksistensi Lahan Hutan serta Keragaman Hayati
di Indonesia
Oleh : Meilani Karina (E44130028)
BAB
I
Pendahuluan
I.1
Latar Belakang
Ekspansi sawit dinilai
menjadi ancaman serius bagi Indonesia. Berbagai kejadian seperti konflik dan
bencana ekologis kerap kali menerpa sejunlah daerah. Hal ini berkaitan erat
dengan laju kerusakan hutan. Menurut data SOB, laju kerusakan hutan di Indonesia
lebih dari 2% atau senilai 1,87 ha/tahun. Pembukaan lahan kelapa sawit secara
besar-besaran dengan legalitas dari pemerintah menyebabkan degradasi lahan
hutan dan keanekaragaman hayati.
Perkebunan sawit dikenal sebagai
anti-keragaman hayati. Masalah terbesarnya adalah sawit sering dibudidayakan
dengan mengorbankan hutan alam yang kaya akan keragaman hayati. Mengingat
tanaman sawit sangat potensial sebagai tumbuhan penghasil minyak nabati
terbanyak. Tidak sedikit pebisnis yang tertarik menggeluti bisnis minyak sawit.
Rata-rata tahunan deforestasi
terutama di Kalimantan terus meningkat. Sekitar 32,6% hutan di Kalimantan yang
masih alami dan belum di konversi menjadi lahan sawit. Berbagai strategi
dipikirkan para ahli agar dampak ekspansi sawit tidak terlalu fatal. Dari mulai
pembukaan lahan sawit hanya boleh dilakukan di lahan hutan yang rusak sampai
pemboikotan minyak kelapa yang ditanam di lahan konservasi. Namun hingga saat
ini, belum ditemukan cara yang baik untuk menghentikan degradasi lahan hutan
dan segala dampaknya yang berimplikasi pada berkurangnya keragaman hayati di
Indonesia.
I.2
Tujuan
Menyampaikan fakta yang berkaitan
erat dengan degradasi lahan hutan dan keragaman hayati yang disebabkan oleh
legalitas ekspansi kelapa sawit di Indonesia.
BAB
II
Pembahasan
A. Keunggulan
Kelapa Sawit
Kelapa sawit Afrika (Elaeis
guineensis) berasal dari kawasan tropis Afrika, tersebar di hutan hujan Sierra
Leone hingga Kongo, Republik Demokratis Kongo. Spesiesnya dikenalkan pada
Malaysia pada awal abad ke-20 dan pertama kali ditanam untuk tujuan komersial
pada tahun 1917.
Merujuk pada Konferensi
Keberlanjutan Minyak Kelapa Internasional (International Palm Oil
Sustainability Conference) pertama di Kota Kinabalu, Malaysia, biologis dari
Princeton Dr. David S. Wilcove mengatakan bahwa industri minyak kelapa terlalu
penting bagi ekonomi Indonesia dan Malaysia untuk dibenarkan masuk dalam
larangan impor pada minyak yang dapat dikonsumsi dan digunakan dalam makanan,
kosmetik, produk industri, dan biodiesel. Industri minyak kelapa memberikan
kontribusi pada kesehatan, edukasi, dan infrastruktur di wilayah rural.
Keuntungan ekonomis dari minyak
kelapa sangatlah potensial, namun harus adanya pengorbanan keragaman biologis. Kelapa
sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Satu hektar kelapa
sawit dapat menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau hampir 6.000 liter minyak
mentah menurut data dari Kementerian Pertanian dan Perkebunan Republik
Indonesia
.
Selain biofuel, kelapa sawit juga dipakaikan untuk beribu-ribu kegunaan lain dari bahan-bahan makanan ke pelumas mesin hingga dasar kosmetik. Kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel. Sebagai contohnya, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil minyak kelapa terbesar kedua di dunia, perkebunanan kelapa sawitnya mencakup 5,3 juta hektar di tahun 2004, menurut laporan dari Friends of the Earth-Netherlands.
Selain biofuel, kelapa sawit juga dipakaikan untuk beribu-ribu kegunaan lain dari bahan-bahan makanan ke pelumas mesin hingga dasar kosmetik. Kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel. Sebagai contohnya, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil minyak kelapa terbesar kedua di dunia, perkebunanan kelapa sawitnya mencakup 5,3 juta hektar di tahun 2004, menurut laporan dari Friends of the Earth-Netherlands.
B. Dampak
Ekspansi Sawit

sumber: world.mongabay.com
Deforestasi di Indonesia serta
berkurangnya keragaman hayati merupakan dampak dari legalitas ekspansi kelapa
sawit secara besar-besaran.

Laju kerusakan hutan di Indonesia
mencapai 2%. Selain kerusakan lingkungan, investasi perkebunan kelapa sawit
juga mengancam keberadaan masyarakat lokal beserta hak-hak tradisionalnya.
Secara umum diskriminasi terhadap masyarakat lokal sangat banyak terjadi dalam
pengelolaan sumber daya hutan dan lahan hutan di Kalimantan Tengah. Seringkali
hutan lindung, hutan konservasi dan kawasan tambang ditetapkan oleh pemerintah
sendiri tanpa melibatkan komunitas masyarakat lokal.
Ekspansi kebun sawit berdampak pada
deforestasi dan degradasi hutan terhadap masyarakat lokal. Bagi masyarakat lokal
yang tinggal di dalam dan sekitar hutan, deforestasi dan degradasi hutan
berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dampak tersebut bukan hanya dibidang
ekonomi tapi juga bidang politik, sosial dan budaya.
Banyak perkebunan sawit nakal yang
beroperasi di atas lahan hutan konservasi, jumlahnya masih dalam pencarian.
Perkebunan sawit itu dibangun secara sporadis dan sembunyi-sembunyi. Hal ini
disampaikan oleh Menteri Kehutanan pada ICOPE 2014 di Bali. Kasus lainnya,
Golden Agri Resources (GAR) atau konglomerasi pengembangan sumberdaya alam
besar yang berbasis di Singapura. Kelompok usaha ini, yang dimiliki oleh
keluarga Widjaya yang kaya raya dari Indonesia, meliputi Sinar Mas Banking,
Sinar Mas Forestry, dan Asia Pulp and Paper. Mayoritas kepemilikan kelapa sawit
yang luas dari konglomerasi ini di Indonesia dikelompokkan bersama sebagai PT
SMART.
Tahun 2009, kelompok ini berada di bawah sorotan NGO Greenpeace, yang mendapat data yang rinci dari hasil penilaian lapangan dan citra satelit, bahwa anak perusahaan PT SMART melakukan penebangan hutan dan pengeringan gambut dengan melanggar standar-standar RSPO dan dengan demikian memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Karena berada di bawah tekanan berat dari Greenpeace karena membeli minyak sawit dari PT SMART, Unilever mengumumkan akan menangguhkan pembelian minyak sawit produksi PT SMART sambil menunggu penghentian konversi hutan dan lahan gambut oleh pihak perusahaan.
Tahun 2009, kelompok ini berada di bawah sorotan NGO Greenpeace, yang mendapat data yang rinci dari hasil penilaian lapangan dan citra satelit, bahwa anak perusahaan PT SMART melakukan penebangan hutan dan pengeringan gambut dengan melanggar standar-standar RSPO dan dengan demikian memberikan kontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Karena berada di bawah tekanan berat dari Greenpeace karena membeli minyak sawit dari PT SMART, Unilever mengumumkan akan menangguhkan pembelian minyak sawit produksi PT SMART sambil menunggu penghentian konversi hutan dan lahan gambut oleh pihak perusahaan.
Masih banyak kasus lain tentang pembukaan lahan
kelapa sawit secara ilegal dan berdampak sangat buruk bagi eksistensi lahan
hutan dan keragaman hayati. Namun, kelapa sawit tidaklah harus buruk penanaman
yang dilakukan diatas lahan hutan yang rusak dengan tidak menebang hutan di
hulu sungai dan menghentikan pembukaan lahan serta memperhatikan dampak
penggunaan pupuk bagi lingkungan dinilai cukup efektif jika semua pihak
bahu-membahu untuk mewujudkan perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan.
Di penelitian yang melihat keragaman burung dan
kupu-kupu di hutan primer, hutan yang ditebangi, perkebunan karet, dan
perkebunan kelapa sawit, seorang peneliti Prof. Wilcove dan koleganya dari
Princeton Dr. Lian Pin Koh menemukan bahwa pengubahan hutan hujan alami ke
kelapa sawit menyebabkan penurunan yang tajam pada kekayaan spesies. Ditemukan
77 persen penurunan di spesies burung hutan dalam konversi hutan berusia tua ke
perkebunan kelapa sawit. Untuk kupu-kupu, penurunannya 83 persen. Presentase
yang cukup besar.
Fokus pendirian kelapa sawit seharusnya di atas lahan yang telah terdegradasi dan diolah seperti lahan rumput dan perkebunan karet. Hutan primer dan sekunder penting bagi keberadaan keragaman hayati. Namun, usaha untuk memboikot minyak kelapa dinilai tidak praktis dan tidak realistis jika dilihat dari sisi ekonomi. Mengingat hasil dari kelapa sawit merupakan komoditi ekspor Indonesia.
BAB III
Penutup
III.1 Kesimpulan
Kelapa sawit memberikan keuntungan ekonomi yang sangat
substansial bagi negara-negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Indonesia
diperkirakan akan menjadi negara eksportir terbesar olahan kelapa sawit
mengalahkan Malaysia. Ekspansi sawit memberikan dampak agregat yang sangat
buruk bagi eksistensi lahan hutan dan keragaman hayati. Meningkatnya laju
kerusakan hutan di Indonesia serta menurunnya presentase keragaman hayati
menjadi sorotan utama. Pengubahan hutan hujan alami ke kelapa sawit menyebabkan
laju kerusakan hutan naik menjadi 2% dan penurunan tajam spesies burung dan
kupu-kupu.
III.2 Saran
Fokus pendirian kelapa sawit seharusnya diatas lahan
yang telah terdegradasi. Kerjasama yang strategis antara para pemerhati
lingkungan dan perusahaan minyak kelapa dapat menggerakan usaha-usaha
perlindungan lingkungan yang lebih efektif. Pemboikotan minyak kelapa kurang
efektif mengingat pentingnya keuntungan dari hasil penjualan minyak kelapa.
Industri minyak sawit akan mendapatkan keuntungan lebih besar dengan tingginya
keragaman hayati untuk mengurangi pemakaian pembasmi hama kelapa sawit.
Petani kelapa sawit seharunsnya mengembalikan
bidang-bidang lahan hutan yang rusak, daerah penyangga sungai dan habitat di
pinggiran perkebunan kelapa sawit. Pengerjaan yang ramah lingkungan akan
menurunkan tingkat deforestasi dan degradasi keragaman hayati. Integrasi yang
baik antara masyarakat dan produsen kelapa sawit akan menjadi titik terang bagi
ditemukannya solusi inovatif untuk masalah ini.
No comments:
Post a Comment